Sorry, I Regret

SIR newTitle
Sorry, I Regret

Author
_Sicaa.gorJESS

Genre
Angst, Sad

Rating
T

Lenght
Oneshot

Main Cast
Kris Wu | OC

Other
Lay | OC

Notes*: Fanfiction ini udah bberapa kali kuposting di berbagai blog. But, sebelumnya cast utamanya bukan OC, melainkan Jessica Jung. So, jangan heran kalau udah pernah lihat ff ini di tempat lain dengan cast berbeda.

Back Song
Jessica Jung – Because Tears Are Overflowing

.

“ I late to reach you back. I’ve regret . . .”

.

.

SORRY, I REGRET . . .

Kris POV
Hari ini, cuaca kota seoul benar – benar menggambarkan suasana hatiku yang sebenarnya. Yeah, mendung. Lihat saja awan gelap yang berkumpul di langit sana, sungguh gelap. Memang seperti itulah suasana hatiku sekarang. Rasanya hidupku benar – benar hampa kini. Dan itu semua karena kepergian seseorang dari hidupku. Seseorang yang benar – benar kucintai. Kini ia telah terlepas dari pelukanku, dan itu semua karena salahku. Aku menyesal.

“Nayeon-ah… Apa kau juga sedang memikirkanku?” Gumamku kecil sambil berharap gadis itu juga merindukanku.

Aku hanya bisa berharap kini. Berharap ia bisa kembali ke pelukanku. Aku benar – benar menyesal atas perbuatanku dulu yang membuatnya menangis. Ehm, itu sudah terjadi. Semua tak akan bisa terulang kembali.

“Hyung? Kau merenung lagi?” Ucap Lay, dongsaengku. Aku tak menjawab sepatah kata pun.

“Karena Nayeon noona?” Ia bertanya lagi. Ia benar – benar selalu ingin tau tentang apa yang sedang bersarang di otakku.

“Sudahlah Lay, kau sudah sering melihatku merenung seperti ini, dan satu – satunya alasanku adalah dia.” Jawabku risih dengan wajah datar.

“Hhhh. . . Tidak bisakah kau melepaskan diri dari pesonanya? Lagipula ini semua karena salahmu hyung.” Raut wajahnya tampak kesal melihatku yang hanya bisa terus berharap agar Nayeon dapat kembali padaku.

“Sebaiknya, kau segera meminta maaf pada Nayeon noona. Siapa tau, dia masih membuka pintu hatinya untukmu.” Lay kembali memberikan sarannya padaku.

“Dia tidak akan memaafkanku. Kejadian dulu sudah membuat hatinya sudah cukup terluka.”

“Kau harus mencoba. Memangnya, sampai kapan kau akan terus seperti ini, eoh?! Itu pun kalau kau masih benar – benar mencintainya.” Jelas Lay yang mulai beranjak dari tempat duduknya dengan kesal. Yeah, memang ada benarnya juga apa yang dikatakan Lay. Sepertinya aku benar – benar harus mencoba untuk meminta maaf pada Nayeon.

Kris POV End .

******************************

( Kris Dream )
Gadis itu tampak sedang menunggu seseorang di bangku taman. Suasana musim gugur yang menyegarkan terus menyelimuti kota seoul. Senyum indah yang terpampang jelas di bibir merah mudanya telah mewakili kebahagiaannya hari ini. Gadis berambut coklat itu tampak beranjak dari tempat duduknya ketika orang yang ia tunggu telah datang menghampirinya.

“Kris! Ehm, Seul… Seulbi?” Ekspresi wajah gadis itu tampak sedikit berubah. Terkejut melihat kekasihnya sedang menggenggam tangan seorang wanita yang tak asing lagi untuknya. Yah! Itu Park Seul Bi, sahabatnya sendiri.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Nayeon-ah.” Pria itu menunjukkan tampang dinginnya.

“Ada apa? Sesuatu yang penting, ‘kah?” Tanya Nayeon mulai ragu. Pria itu tampak mengehela nafas panjang sejenak.

“Kita selesai saja, Nayeon-ah…. Kita tidak bisa bersama lagi.” Ucap pria bernama Kris itu dengan wajah datar.

Mata Nayeon sontak membulat sempurna kini. Ia masih tak habis pikir, kata – kata ini baru saja keluar dari mulut seseorang yang benar – benar ia sayangi.

“T . . . Tap. . . Tapi kenapa? A . . Apa aku telah membuat kesalahan. Atau mungkin . . .?” Alis Nayeon mulai merapat. Dadanya seketika menjadi sesak. Nafasnya pun terengah – engah menandakan bahwa sebentar lagi air matanya akan mulai membanjiri pipinya.

“Aku tidak bisa lagi bersamamu. K . . Karena aku, sudah dijodohkan dengan Seulbi.” Pernyataan itu pun membuat air mata Nayeon mulai mengalir dengan sendirinya. Pundak gadis itu bergetar semakin kuat memperlihatkan ia yang sedang berusaha menahan isak tangisnya.

“Kalian dijodohkan? Jadi, kau mengakhiri hubungan ini karena . . . .” Nayeon tak meneruskan ucapannya. Ia menatap mata Kris dalam – dalam. Mata yang selalu meneduhkan hati Nayeon itu memang tak memperlihatkan kebohongan. Jadi, mereka memang benar – benar dijodohkan?

“Ya, aku ingin kita berakhir karena aku dan Seulbi telah dijodohkan oleh orang tua kami. Mian, Nayeon-ah…” Pria itu menggenggam erat tangan wanita disebelahnya. Nayeon tampak berusaha teguh dan kuat menerima kenyataan ini.

“Ehm, baiklah. Kita berakhir sekarang. Semoga kalian bahagia kelak.”

Nayeon mulai melangkah perlahan meninggalkan kedua orang ini. Air matanya telah membanjiri pipinya yang indah. Kini, tak ada lagi Kris ataupun Seulbi dalam hidupnya. Ia berusaha mengubur kedua nama itu dari ingatannya . . . .

!!!!!!!!!!!!!

Kris bangun dari mimpi yang menghantuinya lagi malam ini. Mimpi yang memang telah terjadi 2 tahun yang lalu dan bisa dibilang, itu flashback masa lalu Kris yang paling tak bisa ia lupakan.

Keringatnya bercucuran di mana – mana. Ia pun segera berusaha mengatur nafasnya yang terengah – engah. Mimpi ini telah berjuta – juta kali menghampirinya. Bermimpi tentang gadis itu, Jung Nayeon . . . .

******************************

Kris POV
Sinar matahari mulai masuk dari cela jendela kamarku. Ehm, pagi ini tampaknya sangat cerah. Aku pun segera bangkit dari ranjangku lalu bergegas mandi. Tak berselang lama, aku sudah siap dengan pakaian rapi ku. Aku segera berlari keluar kamar menuju meja makan.

“Hyung! Bukankah hari ini hari minggu? Kau tidak berniat untuk kuliah dihari libur, ‘kan?” Tegur Lay dari arah belakang dengan dua cangkir kopi di tangannya.

“Hahaha ~ Memangnya aku sebodoh itu? Aku tidak ingin ke kampus. Aku, ingin menemui Nayeon.” Ucapku perlahan seraya mengambil posisi duduk di salah satu kursi meja makan.

“Oh, jeongmal? Wah, daebak. Kalau begitu minumlah kopi ini terlebih dahulu sebelum kau pergi.” Lay segera menyodorkan secangkir kopi di tangan kanannya padaku.

“Terima kasih. Tapi, aku harus segera pergi. Aku takut, jika hari sudah siang, Nayeon tidak ada di apartemennya.” Ucapku lalu beranjak dari tempat dudukku. Dan kini, aku bisa merasakan Lay menepuk pelan pundakku.

“Hyung! Fighting!” Seru Lay menyemangatiku dengan senyum polosnya. Dia memang saudara yang baik!

******************************

Aku mengetuk perlahan pintu berwarna putih yang ada dihadapanku kini. Aku sangat ragu melakukan hal ini. Aku takut dia akan mengusir dan menolak permintaan maafku. Tapi berselang beberapa menit, ku lihat, pintu itu terbuka perlahan. Gadis itu tampak dari balik pintu ini dengan pakaian casualnya.

Aku ragu menatapnya. Namun, aku coba meyakinkan diriku sendiri untuk sekedar menatap wajahnya. Dan, bisa kulihat dengan jelas kini, wajahnya yang menatapku sambil tersenyum cerah. Matanya berbinar – binar, wajahnya tampak sangat berseri – seri. Aku tidak tau pasti apa maksud dari senyumannya ini tapi, ia membuatku sedikit lega.

“Kris! Kau kemari?” Serunya ramah padaku.

“Ehm, ya.” Jawabku cukup ragu.

“Ayo. Masuklah!”

Dia membuka lebar pintu apartemennya dan menyuruhku masuk. Seketika saja, jantungku berdebar dengan kuatnya. Aku bisa merasakan getaran ini lagi, sama dengan getaran pada saat pertama kali aku berjumpa dengannya.

Aku pun segera duduk di sofa putih miliknya. Namun bisa kurasakan, sedari tadi ia terus memandangiku. Tapi, apa dia tidak marah padaku?

“Kau mau minum apa? Kopi mungkin?” Tawarnya dengan senyum mempesonanya lagi. Ya Tuhan, aku tidak sanggup menatap senyumnya itu.

“Ehm, tidak perlu repot. Aku, datang kemari, ha. . . hanya ingin, meminta maaf padamu.” Ucapku, seraya menundukkan kepalaku serendah – rendahnya.

“Mi. . . minta maaf? Maaf untuk apa? Memangnya, kapan kau membuat kesalahan?” Tanyanya.

Apa dia benar – benar tidak marah padaku? Jeongmal?
Dengan sigap, aku meluruskan pandanganku tepat di matanya. Ia tampak kebingungan dengan kata – kata dan tingkahku.

“Maaf karena, aku memutuskanmu dulu. Aku merasa bersalah telah membuatmu menangis. Dan sekarang, aku menyesal, Nayeon-ah. . .” Nayeon tampak mulai berusaha mencerna kata – kataku.

“Aku sudah memaafkanmu, Kris. Lupakan sajalah. Lagipula, kurasa itu bukan kesalahanmu. Ehm . . . Oh iya, bagaimana perjodohanmu dengan Seulbi? Apa kalian sudah menikah? ” Ia menatapku dengan mata polosnya.

“Aku dan Seulbi, sepakat untuk membatalkan perjodohan kami. Awalnya, kedua orangtua kami tidak setuju jika perjodohan kami dibatalkan. Tapi, akhirnya mereka bisa menerimanya.” Jelasku singkat sambil terus menatap wajah indahnya.

“Tapi, kenapa kalian membatalkannya?”

“Karena aku sadar, aku… tidak bisa jauh darimu, Nayeon-ah. Batinku tersiksa setiap aku tak bersamamu.” Ucapku.

“Aku juga . . .” Lirih gadis itu dengan suaranya yang begitu lembut.

“Dapatkah kita mengulang semuanya? Tentang, cinta kita.” Ujarku singkat.

Aku menatap matanya penuh harapan. Berharap, dia masih mau kembali ke pelukanku. Dan seketika, suasana hening menyelimuti obrolan kami.

“Kau tahu, jauh di dalam hatiku, aku masih sangat mencintaimu. Aku masih sangat menyayangimu. Bahkan, aku selalu merindukanmu. . . . tapi, kau terlambat, Kris. Maafkan aku.” Ujar gadis itu dengan suara yang lirih sembari menundukkan kepalanya. Apa ini ‘kah jawaban yang harus ku terima? Miris sekali.

“ T. . terlambat? Ada apa, Nayeon-ah? Apa kau sudah memiliki kekasih? Atau mungkin. . .” Belum sempat aku melanjutkan kata – kataku, dia segera memotongnya.

“Tidak, Kris. . . kau satu – satunya pria yang ada dihatiku. Tapi, kau benar – benar terlambat. Aku, tidak bisa menjelaskannya sekarang. Maaf. . .” Dia mencoba meyakinkanku. Rasanya sakit sekali mendengar kata – kata itu. ‘Aku terlambat?’

Tiba – tiba saja, suara ponselku yang berdering menghentikan obrolan kami. Di layar ponselku tertulis

‘Calling : Lay.’ Tanpa pikir panjang, aku segera menerima telpon dari Lay itu.

“Ada apa? ” Tanyaku.

“ . . . . . . . . . . ”

“Memangnya ada apa?”

“. . . . . . . . . . ”

“Hhhh…. Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Panggilan kami pun berakhir.
Pandanganku kembali terfokus pada Nayeon yang masih setia ditempatnya.

“Nayeon-ah, aku harus segera pulang. Lay, ingin memberitahukan sesuatu padaku.” Ia menatapku dengan senyumnya lagi.

“Ehm, ne. . . Lain kali, kau harus berkunjung lagi. Jangan sampai aku jadi gila karena meindukanmu.” Ucapnya dengan nada bercanda.

Kris POV End

*******************************

Author POV
Kris membuka pintu apartemen yang ia tinggali bersama adiknya, Lay. Ia segera mencari adiknya itu karena penasaran akan apa yang ingin Lay beritahu padanya.

“Ada apa kau menyuruhku pulang, Lay?” Tanya Kris dengan dinginnya.

“Hyung! Na . . . Na . . Nayeon noona!” Seru Lay terbata – bata. Kris mulai panik ketika adiknya mengucapkan nama Nayeon.

“A . . ada apa dengannya? Ayo beritau aku, Lay! Apa yang terjadi padanya !!!” Bentaknya.

“Nayeon noona sudah meninggal setahun yang lalu.”

???? .

Mata Kris sontak membulat sempurna. Ia mencoba mencerna kata – kata Lay barusan.

“Meninggal? Tapi, aku . . aku baru saja menemuinya di apartemennya! Kau bercanda, kan? Kau berbohong, kan?” Kris menatap Luhan dengan air mata yang hampir pecah.

“Aku serius, Hyung! Aku tidak sengaja bertemu dengan Jiyeon (adik Nayeon) di cafe tadi . Dan dia berkata bahwa Nayeon noona telah meninggal setahun yang lalu . Dan, Jiyeon tidak memberi tau kabar ini pada kita karena ia tidak menyimpan nomor ponsel kita dan tidak tau dimana alamat apartemen kita.” Jelas Lay coba meyakinkan kakaknya.

“Lantas, siapa yang kutemui tadi? Padahal ia benar – benar nyata!” Kris berusaha menahan air mata yang sedari tadi ia bendung di balik kelopak matanya.

“Jiyeon bilang, Nayeon noona meninggal karena penyakit jantung.”

Kris menunduk rendah dihadapan Lay yang menatapnya penuh haru . Namun, ia segera mendongakkan kepalanya kearah Lay.

“P . . . penyakit jantung? Tapi, kenapa Nayeon tidak pernah memberitahukannya padaku?” Gumam Kris dalam hati.

“Nayeon noona sudah mengidap penyakitnya sejak ia masih kecil. Dan, penyakitnya ini bertambah parah sejak 2 tahun yang lalu. Lebih tepatnya, sejak kalian putus.”

Kris mulai dengan tatapan kosongnya, kembali membayangkan Nayeon yang baru saja ia temui beberapa saat yang lalu.

“Jiyeon menitipkan box ini padaku. Ia bilang, ini dari Nayeon noona. Nayeon noona ingin memberikan ini padamu.” Lay menyodorkan sebuah box biru dengan pita merah di sudutnya.

“Apa ini?” Tanya Kris seraya menerima box dari tangan Lay.

“Entahlah… tidak ada yang mengetahuinya.” Jawab Lay singkat. Kris segera berjalan ke kamarnya untuk membuka isi box ini.

Kris membuka perlahan isi box itu.

“Disk DVD?”
Kris kebingungan melihat isi box itu. Namun tak lama, ia segera memasukkan disk DVD itu pada DVDPlayernya.

Seketika, layar pada LCD TV Kris pun menampakkan gadis pujaannya.

‘Annyeong, Kris! Masih ingat denganku? Hahaha ~ Aku hanya bercanda. Aku yakin ketika kau melihat rekaman ini, aku pasti sudah pergi lebih dulu. Hehehe ~ Aku sudah memastikan itu.
Bagaimana hubunganmu dengan Seulbi? Berjalan dengan lancar, ‘kah? Kuharap begitu.’

Gadis pada layar itu terus memamerkan senyum indahnya, meskipun wajahnya kini terlihat sangat pucat .

‘Ehm, mungkin kau sedang bertanya – tanya aku sedang di mana sekarang. Yeah, seperti yang kau lihat sekarang, aku sedang berada di rumah sakit. Mungkin inilah tempat terakhirku didunia ini .Hehehe ~ . . .’ Mata gadis itu perlahan – lahan terlihat berkaca – kaca. Bibirnya sempat bergetar karena menahan tangis.

‘Ah, aku ingat bahwa kau pernah berkata padaku, kau ingin mendengarku bernyanyi untukmu, bukan? Walaupun kini tenggorokanku terasa sangat sakit walau hanya untuk berbicara, aku tetap akan berusaha bernyanyi dengan baik untukmu.’

Nayeon segera memperbaiki posisi duduknya yang berada di atas ranjang rumah sakit. Ia mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.

‘ Nunmuri neomchyeoseo ddo kangmuli dwego
(Saat air mata ku berlimpah menjadi sungai)

Ddo badaga dwemyeon geudae
(Dan menjadi lautan)

Nae mameul alkkayo jomdeo algo sipnayo
(Apakah kau ingin tau lebih tentangku?)

Neoman saranghaneun nal
(Seseorang yang hanya mencintaimu ini)

Nae pyeoni dweeoseo ddo haneobsi utgo
(Tidak bisa ‘kah kau berada disisiku? Sehingga kau dapat tertawa tanpa henti)

Ddo haneobsi ulmyeon andwaeyo ?
(Dan menangis tanpa henti bersamaku?)

Neomu apado geudaeman saranghal nanikka
(Karena aku hanya akan mencintaimu meskipun ini sangat menyakitkan)’

Gadis itu perlahan meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya. Ia menggigit kuat bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya. Nayeon segera menghapus beribu tetes air mata yang telah menghiasi pipinya yang indah itu.
Perlahan, senyumnya pun kembali mengembang.

‘Bagaimana, kau suka nyanyianku? Maaf, suaraku terdengar sangat serak, yah? Hehehehe ~ . . . Itu buruk. Tapi, inilah persembahan terakhirku untukmu. Karena aku tau, waktuku tak akan lama lagi . . . Oh iya, walaupun hubungan kita sudah berakhir, aku tetap akan mencintaimu Kris Wu. Sampai kapanpun itu.’

‘Hehehe. . . Aku malu harus menampakkan wajahku yang penuh air mata seperti ini padamu, Kris. Tapi tolong, kau jangan menangis.’ Ucapnya dibalik layar tv dengan suara yang lirih dan parau. Kris hanya terpaku membisu melihat gadis yang ia cintai di layar televisinya.

‘Ehm, aku lelah, Kris. Lain kali, jika aku masih punya waktu sedikit lebih banyak, aku akan menemuimu. Sampai disini dulu ya. Aku janji, walaupun nanti ajal menjemputku, aku akan terus bersamamu. Dihatimu Kris . . . . . . . Annyeong!’ Ucap gadis itu seraya melambaikan tangan kanannya secara perlahan .

Layar pada televisi itu pun menjadi hitam dalam sekejap. Air mata Kris telah membasahi kedua pipinya sedari tadi. Perasaan senang, sedih sekaligus penyesalan bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya. Ya, ia senang dapat melihat wajah Nayeon lagi, namun perasaan sedih dan penyesalannya tak kalah kuat mengusik hatinya. Tapi, semuanya telah terjadi. Semua tak akan terulang kembali.

******************************

Kris berjalan datar kearah sebuah makam dengan sebuket bunga mawar di tangan kanannya. Dan, sampailah ia di sebuah makam yang bertuliskan

‘Terbaring : Jung Na Yeon’.

Pria itu menghadap tepat di makam gadis itu. Tanpa sadar, air mata Kris mengalir deras dengan sendirinya. Ia menghembuskan nafas panjangnya.

“Nayeon-ah. . . aku merindukanmu. Sangat merindukanmu… Aku bahkan merasa, sebagaian dari diriku telah lenyap entah kemana.” Kris meraih makam dihadapannya dan segera menaruh bunga itu dihadapannya.

“Sekarang, aku tahu. Aku tahu maksudmu . . . kau berkata ‘aku terlambat’. Ya, benar. Aku benar – benar terlambat. Mianhae. Padahal, aku sangat berharap bisa memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Tapi . . . miris sekali kenyataannya. Tapi aku tahu, kau orang yang benar – benar percaya surga, bukan? Jadi, pasti kau sudah berada di tempat yang terindah di surga sana.” Kris mengusap pelan pipinya yang basah.

“Yang harus kau tahu adalah. . . aku mencintaimu, Jung Nayeon. Walaupun kau meninggalkanku secepat ini, cintaku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. . . . . Aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau hidup didalam hatiku.”

***** END *****

Iklan

3 pemikiran pada “Sorry, I Regret

  1. Ahhaha pdhal ak gak suka klo ff yg sad ending tp apa mau dikata aku suka bca ff yg castnya kris hhahah dan ak msih bingung yg ditemuin kris d apartementnya nayeon siapa ? Atau cmn mimpi kris aja? Atau itu cmn bayangannya si nayeon? Hahhaha kepo deh gue
    #very nice

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s